Translate

BBM

BBM

Astrologi Batak (Zodiak Versi Batak)

Sejak dulu ternyata nenek moyang orang Batak telah mengetahui perkiraan waktu dan rasi bintang, sebagaimana halnya dengan bangsa Yunani dan bangsa Cina. Kelahiran seseorang dikatakan ’Masiboan Porda na do tu langgu ni sasabi, masiboan bagianna do tu si ulu balang ari’. Inilah hasil penelusuran Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing soal astrologi di Tanah Batak.

Ditemui METRO di Kantor Radio Suara Anugerah (Rasurah) milik Pemkab Tapteng di Pandan, Senin (12/1) kemarin, Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing tampak masih segar dan energik. Padahal, usianya sudah 70-an tahun. Bincang-bincang soal astrologi di Tanah Batak, mantan Kepala Stasiun RRI di berbagai kota ini mengatakan, dirinya tidaklah piawai. ”Saya hanya menelusuri dan mencoba menjelajahi pemikiran orang Batak dulu, khususnya para Datu bidang astrologi Batak di sepanjang Pantai Barat, Pantai Timur, serta pedalaman Tanah Batak,” katanya dengan nada merendah.

Dari hasil penelusuran tokoh yang sering memakai nama samaran Mamak Sulto ini, ada strata ilmuwan Batak. Stratifikasi intelektual atau tingkatan cendekiawan dalam susunan masyarakat Batak dahulu terdiri dari Guru, kemudian Datu, dan terakhir Ompung atau Ompu. ”Predikat Keguruan seseorang diperoleh dari pengamatan dan penelitiannya, kemudian mengajarkan kepada para Datu. Seorang Datu dipercaya sebagai manusia yang sarat dengan pengalaman, perguruan, maupun ilham yang diperoleh. Sedang Ompu diakui otoritas dan kebenaran kata-katanya, pengaruhnya terutama kepada keturunan dan generasi di belakangnya,” kata Dr Sudung. Jumlah Guru lebih sedikit, sedang jumlah Datu lebih banyak.

Beberapa Guru yang populer abad ke-16 di kalangan orang Batak antara lain Guru Tinandangan, Guru Hatia Bulan, Guru Ramiti, Guru Mangaloksa, Guru Manomba Bisa, Guru Patimpus, Guru Sananga Diaji, Guru Humundul, Guru Tatea Bulan, Guru Somalaing, dan beberapa lagi.

Sedangkan para Datu terdapat pada setiap induk marga, di antaranya Datu Pulungan, Datu Dalu, Datu Parmanuk Holing, Datu Mallatang Malliting, Datu Boru Sibaso Bolon, Datu Horbo Marpaung, Datu Jolma So Begu, Datu Parpansa Ginjang, dan lainnya. ”Ada juga Datu yang dibangkitkan menjadi Guru, sehingga memperoleh kedua predikat kebolehan itu,” kata Dr Sudung yang juga mantan wartawan ini.

Semua sumber ilmu pengetahuan guru dalam buku (pustaha) berawal dari Mulajadi Nabolon, yang mereka tulis sendiri dan ditambah hasil penemuan dan pengalaman baru. Ilmu itu diajarkan terbatas kepada para muridnya, terutama pada Datu. Juga ditulis dalam Buku Pustaha masing-masing guru. Salahsatu buku penting menyangkut ’Tingki’ (waktu), yang disebut parhalaan. ”Hampir semua guru memilikinya, dan juga digunakan para Datu setiap kerajaan. Terakhir, banyak para guru menyalinnya dan diberikan kepada para ’Datu’ untuk digunakan,” jelas Dr Sudung.
Mencermati berbagai sumber terutama dari bagian buku Pustaha, tulisan orang-orang Eropa/laporan mereka serta keterangan para orang tua, kesadaran orang Batak tentang Tingki (masa atau waktu) sudah sangat tinggi. ”Tingki atau waktu dalam satu hari pada awalnya terdiri dari 5 fase,”jelas Dr Sudung. Yakni Sogot, kemudian menjadi Pangului, selanjutnya Hos, kemudian Guling, dan terakhir Bot. Setelah disadari pembagian itu hanya terjadi di siang hari, maka guru lainnya mencatat waktu malam, yakni samon, sampinodom, tonga, tahuak manuk, dan terakhir torang. Begitulah sirkulasi seterusnya kembali sogot, pangului, hos, guling, bot, samon, Sampinodom, tonga, tahuak manuk, dan torang.

Terakhir para Guru dan Datu Jenius mengadakan pertemuan dan menyepakati, satu hari adalah 24 jam. Dan untuk siang hari, pembagian waktunya yakni Binsar mataniari pukul 6, Pangului pukul 7, Tarbakta pukul 8, Tarbakta Raja pukul 9, Sagang pukul 10, Humara Hos pukul 11, Hos Ari pukul 12, Guling pukul 13, Guling pukul 14, Dua Gala pukul 15, Sagala pukul 16, dan Bot Ari pukul 17.

Kemudian untuk malam hari dibagi sebagai berikut, Sundut Mataniari pukul 18, Samon pukul pukul 19, Hatiha Mangan pukul 20, Tungkap Hudon pukul 21, Sampinodom pukul 22, Sampinodom na bagas pukul 23, Tonga Borngin pukul 24, Haroro ni Panangko pukul 1, Tahuak Manuk Sahali pukul 2, Tahuak Manuk Paduahon pukul 3, Buha-buha Ijuk pukul 4, Torang Ari pukul 5.

”Dari pengamatan berikutnya, perbedaan antara hari demi hari disebut dalam istilah perkiraan 1 minggu, sebagaimana terdapat pada kalender Julian,” kata Dr Sudung. Hari Minggu disebut orang Batak Artia. Senin dinamai Suma, Selasa dinamai Anggara, Rabu disebut Muda, Kamis dinamai Boraspati, Jumat disebut Singkora, dan Sabtu disebut Samisara.

Uniknya, kata Dr Sudung lagi, kalau bangsa-bangsa lain memberi nama hari untuk setiap minggu itu sama, maka orang Batak, dari pengamatan dan pengalamannya, hari demi hari dalam setiap minggu ada perubahan. Karena itu, meski dasar-dasar hari itu sama, namun pada minggu kedua, nama hari berubah. Misalnya, hari Minggu pada minggu kedua dinamai Artia ini Aek, Senin disebut Suma Mangodap, Selasa dinamai Anggara Sampulu, dan seterusnya.

Yang istimewa, para Guru Batak zaman dulu menyadari bahwa setiap tanggal 15 pertengahan bulan adalah Bulan Purnama. Sehingga setiap hari tanggal pertengahan bulan tetap nama harinya, yakni dinamakan Tula. ”Mereka telah menyadari, bahwa rata-rata setiap bulan terdiri dari 4 minggu, dengan setiap hari diberi nama dengan 30 nama hari, dan ada 12 bulan dalam setahun. Mereka juga menyadari adanya tahun kabisat,” jelasnya.

Pengalaman mereka, dari 30 tahun ada 19 kali menggunakan Parhalaan dengan perkiraan hari 354 hari dalam setahun, dan 11 kali dalam 30 tahun menggunakan hari 355. Sehingga dalam penggunaan Parhalaan, dipakai adanya bulan 13 untuk penetapan hari/bulan/tahun. Dengan Parhalaan 2 jenis, yaitu satu yang bulannya 12 satu tahun, dan satu lagi untuk tahun kabisat dengan perkiraan bulan ke-13 dari 30 tahun itu. Sedang rata-rata seluruh bulan tetap dihitung 30 hari.

Perhitungan tahun Batak atau permulaan Tahun Batak dimulai saat terbenamnya Bintang Orion di ufuk Barat, atau saat terbitnya Bintang Scorpio (Hala) di langit sebelah Timur. ”Dengan demikian, tergambar hubungan Bulan-Bintang-Bumi, dan Matahari dengan manusia yang menghuni bumi,” jelasnya.

Para Guru dan Datu Batak juga menyadari perubahan musim kemarau dan musim penghujan serta musim pancaroba (peralihan). Itulah yang menjadi dasar dan pedoman untuk melakukan penanaman padi, penangkapan ikan, perburuan, maupun peperangan, serta pengaruh terhadap kesehatan dan penyakit.

Dalam astrologi Yunani yang banyak dianut dunia internasional, zodiak lebih dikenal nama-nama Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricoren, Aquarious, dan Pisces. Sedangkan di tanah Batak, zodiak atau Parmesana-12 dikenal dengan nama-nama: Marhumba Periuk (simbol hudon), Mena (simbol ikan), Gorda (simbol kambing), Marsoba (kupu-kupu), Nituna (cacing), Makara (kepiting), Babiat (singa), Hania (elang), Tola (pohon), Martiha (batu), Dano (air), dan Harahata (kodok).

Parmesana-12 orang Batak mempunyai dasar perkiraan dan simbol zodiak sebagai berikut:



Zodiak Yunani dan Parmesana-12 ada kemiripan dalam tanggal, tapi tetap berbeda meski tipis. Misalnya kepiting dalam astrologi Yunani adalah yang lahir tanggal 21 Juni-21 Juli. Sementara dalam Parmesana-12, makara (kepiting) adalah orang yang lahir tanggal 19 Juli-20 Agustus.

”Waktu atau partingkian bagi manusia yang kurang menyadari, terasa lama. Tetapi setelah dilalui, terasa singkat ketika tiba-tiba menyadari bahwa pagi telah berganti siang, dan gelap mulai menjelang malam, dan yang terjadi adalah penyesalan. Menyadari hal itulah, maka orang Batak tempo dulu pergi marguru atau mangalualu (bertanya) kepada Datu,” jelas Dr Sudung Parlindungan kepada METRO.

Oleh Datu, ditiliklah rasi bintang kelahiran seseorang dan diperkirakan dengan futurologi masa dulu, apa dan bagaimana dia, sesuai kemampuan terbatas sang Guru atau Datu meramalkannya. ”Benar tidaknya, terserah kepada masing-masing orang Batak tempo dulu itu,” kata Dr Sudung.

Kelahiran 9 Februari sampai 10 Maret dilambangkan dengan simbol hudon atau dalam bahasa ramal Marhumba Periuk. Ini mempunyai sifat sosial, umumnya mereka mudah menyesuaikan diri dengan orang lain.Banyak taktiknya dan disukai orang lain. Hanya saja sering pelupa, sehingga sering dianggap sebagai orang yang ingkar janji. Cocok menjadi guru, datu, dan tabib.

Kelahiran 11 Maret sampai 12 April dlambangkan dengan simbol ikan (mena), mempunyai sifat suka mengalah, lincah, dan agak kikir serta suka bergaul dan rukun. Keberuntungannya cenderung menyukai perdamaian daripada keributan. Cocok menjadi seniman, sopir.

Kelahiran 13 April sampai 14 Mei dilambangkan dengan simbol kambing (gorda) mempunyai sifat agak cengeng dan suka akan hal-hal baru. Daya pikirnya luas dan selalu ingin berkembang dan liar. Sifat pantang mundurnya menyebabkan dia dapat menjadi pemimpin yang sukses. Cocok menjadi pegawai, guru, Datu, pengembara, wartawan, tentara.

Kelahiran 15 Mei sampai 16 Juni disebut Marsoba, dilambangkan dengan simbol kupu-kupu. Mempunyai sifat sabar, telaten, dan lamban menyesuaikan diri. Ia pemikat yang jitu. Tapi kalau sudah marah, bisa frustasi dan hancur-hancuran. Dia pandai berhemat, tetapi kalau menginginkan sesuatu tidak menanggung resiko apapun. Cocok menjadi seniman, perawat, juru runding, pemasaran, dan pengusaha.

Kelahiran 17 Juni sampai 18 Juli disebut Nituna, dilambangkan dengan cacing. Mempunyai sifat sosial. Sifatnya yang kurang baik adalah pendapatnya yang sering berubah dengan kata lain tidak berpendirian tetap. Tetapi daya pikirnya luas dan jiwanya selalu hidup tak senang pada perubahan baru. Cocok menjadi pionir, serdadu, polisi, perencana, dan pelaut.

Kelahiran 19 Juli sampai 20 Agustus, disebut Makara, dilambangkan dengan simbol kepiting. Mempunyai perasaan sangat halus dan suka menyendiri. Sifat penyayangnya amat besar, terutama terhadap binatang. Golongan ini tidak senang foya-foya, lebih senang hidup di rumah daripada bepergian. Cocok menjadi serdadu, penyawah, saudagar, tabib, dan rohaniawan.

Kelahiran 21 Agustus sampai 22 September disebut Babiat, dilambangkan dengan singa. Ia bersifat jujur, pemberani, dan terus terang. Karena itu di mana-mana ia dipercaya orang. Sayangnya dia sangat mudah naik darah walaupun cepat juga menjadi baik. Cocok menjadi serdadu, guru, Datu, pendekar, dan pelopor.

Kelahiran 23 September sampai 24 Oktober, disebut Hania dilambangkan dengan simbol elang yang berarti kesucian. Sifatnya yang tampak adalah kritis, jadi cocok kalau jadi kritikus. Dia tidak mau menerima apa saja yang diterangkan seseorang dan pekerjaannya selalu rapi. Golongan ini tidak senang menonjolkan diri di depan umum, dan firasatnya amat tajam. Cocok menjadi pedagang, saudagar, pelaut, dan pionir.

Kelahiran 25 Oktober sampai 26 November disebut Tola, dilambangkan dengan pohon. Biasanya tidak mudah tersinggung. Perasaannya halus. Dalam mengambil keputusan kadang-kadang tampak lambat sehingga sukar dipengaruhi. Kurang pandai menyesuaikan diri dalam pergaulan dan senang berpakaian indah. Cocok menjadi guru, petani, padri, tabib, dan pimpinan.

Kelahiran 27 November sampai 28 Desember dinamai Martiha, dilambangkan dengan simbol batu. Mmepunyai semangat kuat dalam menempuh segala hal. Sifatnya yang agak aneh ialah sering merahasiakan sesuatu dan tertutup. Biasanya tabah dalam menghadapi segala rintangan. Ulet dan tidak suka bersenda gurau. Cocok menjadi datuk, pendekar, peneliti, serdadu.

Kelahiran 29 Desember sampai 30 Januari disebut Dano, dilambangkan dengan air. Mempunyai sifat berani mengadu untung. Biasanya mempunyai tubuh yang kuat hingga cocok menjadi olahragawan. Cerdas dan rajin bekerja. Berjiwa sosial tinggi tetapi kadang-kadang sombong. Cocok menjadi rohaniawan, tabib, guru, intelijen.

Terakhir kelahiran 31 Januari sampai 8 Februari disebut Harahata, disimbolkan dengan kodok, mempunyai sifat tekun mengerjakan sesuatu, pantang mundur. Tetapi ia tidak mudah percaya akan omongan orang. Cocok menjadi penyanyi, sastrawan, pengarang, budayawan, wartawan, penulis.

”Itu hanya gambaran dasar dari Parmesana-12. Masih ada beberapa ciri khas masing-masing, selengkapnya ada di buku yang sedang saya susun, berjudul ’Menelusuri Astrologi di Tanah Batak’, yang diharapkan dapat segera dicetak,” kata Dr Sudung.

Dalam menilik futurologi seseorang, jelas Dr Sudung lagi, Guru dan datu biasanya menkrosceknya dengan panggorda na-pitu atau na walu. ”Datu atau Guru yang mempunyai talenta di bidang itu akan membicarakan nasib peruntungan seseorang berdasarkan pembicaraan roh melalui mulutnya, tentang hari baik, hari buruk, yang sebenarnya bisa diterjembahkan secara logika masa kini. Karena bisa dipelajari lewat pustaha,” katanya.

Maniti ari! Mungkin orang Batak pada umumnya pernah mendengar istilah itu. Maksud maniti ari adalah mencari hari dan bulan baik. Biasanya dilakukan untuk mencari tanggal baik untuk menggelar pesta perkawinan atau pesta-pesta besar lainnya. Maniti ari itu istilah sekarang ibarat prakiraan cuaca, tetapi ala kalender Batak.

Menilik kalender Batak sebelum menetapkan tanggal pesta, barangkali umum terjadi di sejumlah keluarga Batak yang masih memegang tradisi. Bagi keluarga yang tak paham cara ’melihat’ kalender Batak atau tak punya kalender Batak, boleh berkonsultasi pada ’orang pintar’ untuk memilihkan hari baik dan bulan baik.
Hasil penelusuran Dr Sudung Parlindungan Lumbantobing dari sejumlah Datu bidang astrologi Batak di sepanjang Pantai Barat, Pantai Timur, serta pedalaman Tanah Batak, dalam maniti ari, umumnya suhut atau yang empunya hajat pestalah yang pertama menentukan bulan berapa rencananya pesta akan digelar. Nah, berikutnya Datu yang dimintai jasa akan me-recek tanggal dan bulan dimaksud dalam parhalaan (kalender Batak).

Ada sistem perhitungan yang dimiliki oleh si Datu. Dalam Kalender Batak, nama-nama hari berbeda untuk 30 hari, meski dengan nama dasar yang sama. Misalnya, hari kedua minggu pertama disebut suma, hari kedua minggu kedua disebut suma ni mangadop, hari kedua minggu ketiga disebut suma ni holom, dan hari kedua minggu keempat disebut suma ni mate.

Jumlah bulan ada 12, yakni Sipaha Sada (April), Sipaha Dua (Mei), Sipaha Tolu (Juni), Sipaha Opat (Juli), Sipaha Lima (Agustus), Sipaha Onom (September), Sipaha Pitu (Oktober), Sipaha Walu (Nopember), Sipaha Sia (Desember), Sipaha Sampulu (Januari), Li (Pebruari), dan Hurung (Maret).

Dalam mencari tanggal dan bulan yang baik, Datu biasanya memadukan Parmesana-12 (sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya), Panggorda na-pitu atau walu (elang, ular, burung pipit, embun, singa, borang-borang, anjing, dan air), dikroscek dengan parhalaan (kalender).

”Penggunaan Panggorda Vs Parmesana-12 tidak selamanya dilakukan, apabila Datu telah yakin pilihannya akan hari. Apabila tidak yakin, barulah dilakukan rechecking dengan panggorda. Bila Parmesana-12 menang, maka tetap dianggap hari baik,” jelas Dr Sudung.

Adapun para astrologi dan Datu Batak zaman dahulu menerjemahkan arti parhalaan sebagai berikut:
Pada hari atau minggu di mana terdapat tanda kepala dan jepitan kalajengking, menandakan kerugian mengadakan pesta besra. Demikian juga bila ada tanda perut ataupun ekornya. ”Dan jika ada bulatan berisi titik besar, sebaiknya dihindari sebagai hari menikahkan anak perempuan/laki-laki,” kata Dr Sudung.

Tanda kali dan bulatan (XO) diartikan sebagai saat yang baik untuk menerima uang dan menagih uang dari orang lain. Tanda H atau tanda satu disebut ’Simonggalonggal’. Pada hari di mana tanda itu ada, disarankan menghindari memasuki rumah untuk rumah yang baru selesai dibangun, atau akan ditempati penghuni baru.

Tanda X (kali) diartikan untuk memancing ikan, atau kalau mengadakan pesta disebut sebagai waktu yang baik untuk menyajikan pangupaon dengan ihan. Adapun dua bulatan menandakan buah atau disebut Ari Parbuea, dipercaya sebagai saat yang tepat untuk bertanam atau mengadakan pesta perkawinan.

Tanda 10 (angka satu dan angka kosong), adalah tanda alang kepalang atau hari tanggung. Maksudnya, pekerjaan yang dilakukan pada hari itu tidak tuntas. ”Jadi hindari untuk menyelenggarakan perundingan komersil,” kata mantan staf ahli Menteri Penerangan lagi.

Tanda kail berdiri bermata dua dan juga tanda V terbalik biasanya adalah hari yang dihindari untuk melakukan kegiatan, karena dipercaya membawa kerugian. Begitu juga dengan tanda hala (kalajengking) sungsang dengan simbol bagian kepala hala membarat (hala sungsang) juga disebut kurang baik.

Tanda atau lambang hala ke utara adalah hari matahari mati. Partilaha, artinya sering terjadi kematian. Tanda getar suara adalah juga hari yang dihindari, karena tanda itu berarti banyak suara-suara sumbang yang pro dan kontra dan oposan.

Tanda bulatan kecil disebut disebut ari na walu, hari ke delapan. Dipercaya, seorang suami akan kehilangan istri atau sebaliknya, bila mengadakan pesta pada hari yang ada tanda dimaksud.
Tanda XI (sebelas Romawi), disebut ’ari pangugeuge’, hari yang kurang baik berpesta, tetapi sangat baik untuk berburu babi hutan. Tanda kotak hitam adalah hari netral, tergantung baik buruknya pada niat dan keinginan manusia.

Dr Sudung lebih lanjut menjelaskan, tidak banyak perbedaan peramalan antara Datu di pedalaman dengan Datu di pesisir Pantai Barat dan Timur. Hanya saja, susunan dan penetapan tanda parhalaan dan perhitungan setiap 30 tahun (tahun-tahun kabisat), menggeser pemakaian parhalaan, menimbulkan perbedaan penggunaan simbol/lambang pada parhalaan 13 dan parhalaan 12 bulanan.

Orang-orang Batak yang tinggal di Pantai Barat dan di Pantai Timur, selain menggunakan kalender Batak, juga dikaitkan dengan perkembangan bintang di langit untuk melakukan pelayaran.

Sumber : dameambarita.wordpress.com

Pandangan Injil Terhadap Upacara Adat Batak

Salah satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia Timur dengan di belahan
dunia Barat adalah dalam hal adat istiadat. Kehidupan masyarakat Timur dipenuhi dengan
berbagai jenis upacara adat, mulai dari masa dalam kandungan, kelahiran, penyapihan,
perkawinan, penyakit, malapetaka, kematian dan lain -lain. Upacara-upacara di sepanjang
lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah rites de passages atau
life cycle rites.

Peralihan dari setiap tingkat hidup ditandai dengan pelaksanaan suatu upacara adat khusus.
Upacara ini didasarkan pada pemikiran bahwa masa peralihan tingkat kehidupan itu
mengandung bahaya gaib. Upacara adat dilakukan agar seseorang atau sekelompok orang
terhindar dari bahaya atau celaka yang akan menimpanya. Malahan sebaliknya, mereka
memperoleh berkat dan keselamatan. Inilah salah satu prinsip universal yang terdapat di balik
pelaksanaan setiap upacara adat itu.

Beberapa life cycle rites yang dijumpai pada masyarakat Batak Toba di antaranya: mangganje
(kehamilan), mangharoan (kelahiran), martutu aek dan mampe goar (permandian dan
pemberian nama), marhajabuan (menikah), mangompoi jabu (memasuki rumah), manulangi
(menyulangi/menyuapi), hamatean (kematian), mangongkal holi (menggali tulang belulang),
dll. Pada masyarakat Batak lainnya (Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola, dan Pakpak
Dairi), upacara tersebut memiliki sebutan-sebutan yang berbeda.

Persoalan besar dan sangat penting yang dihadapi oleh seseorang yang memutuskan untuk
sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus adalah: apakah dia masih boleh terlibat dalam
upacara adat Batak yang berasal dari masa ketika leluhurnya hidup dalam kegelapan rohani
(haholomon) dan penyembahan berhala (hasipelebeguon). Permasalahan tersebut muncul
ketika Injil Tuhan Yesus diberitakan pertama kalinya oleh para Missionaris di Tanah Batak, dan
terus berlanjut hingga masa kini. Persoalan ini belum tuntas diselesaikan, baik sewaktu Pdt.
I.L. Nommensen masih hidup, pada masa gereja dipimpin para Missionaris penerusnya,
maupun pada masa pimpinan gereja berada di tangan orang Batak sendiri.
Nommensen mencoba membagi upacara adat atas tiga kategori, yaitu:
i. Adat yang netral
ii. Adat yang bertentangan dengan Injil
iii. Adat yang sesuai dengan Injil

Sebelum masalah itu tuntas, beliau mengambil kebijaksanaan untuk melarang keras
dilaksanakannya upacara adat Batak oleh orang Kristen Batak, termasuk penggunaan musik
dan tarian (gondang dan tortor) Batak. Akibatnya, jemaat yang baru dilayani pada masa itu
banyak yang dikucilkan dari masyarakat, sehingga Nommensen terpaksa menampung mereka
dengan membangun perkampungan baru, yang disebut Huta Dame.
Bahkan Raja Pontas Lumban Tobing pernah dikenai disiplin gereja karena menghadiri sebuah
upacara kematian. Raja Pontas Lumban Tobing adalah orang yang memberikan tanahnya di
Pearaja, Tarutung untuk dipakai bagi kegiatan pelayanan gereja. Dia termasuk seorang raja
Batak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus di awal pelayanan Nommensen. Raja ini
mempunyai andil yang cukup besar dalam penyebaran Injil, khususnya dalam menjangkau
raja-raja di wilayah Silindung.

Namun sampai akhir hidupnya, Nommensen gagal menyelesaikan masalah tersebut. Salah
satu sumber kegagalan Nommensen terletak pada kategori yang dibuatnya sendiri.
Nommensen sulit menentukan upacara adat Batak mana yang tidak bertentangan dengan Injil
dan upacara adat mana yang netral.

Pada masa-masa akhir pelayanan para Missionaris di Tanah Batak, ditengah-tengah umat
Kristen Batak muncul suatu desakan untuk mempertahankan berbagai upacara adat Batak dan
mengganti kepemimpinan gereja dengan orang Batak sendiri. Usaha tersebut baru berhasil
dengan diangkatnya Pdt. K. Sirait menjadi Ephorus Batak pertama (1942).
Tekanan supaya diizinkannya kembali upacara adat muncul sebagai dampak negatif dari
strategi penginjilan di tanah Batak dengan pendekatan struktural masyarakat Batak.
Penginjilan dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada raja-raja yang memimpin di
wilayah masing-masing marga. Pertobatan seorang raja biasanya segera diikuti dengan
pembaptisan massal dari penduduk di wilayah itu, yang umumnya memiliki ikatan kekerabatan
dengan sang raja. Dengan cara ini, para Missionaris berhasil dengan cepat mengkristenkan
wilayah Tapanuli bagian Utara.

Pihak gereja yang mengutus Nommensen menolak adanya pembaptisan massal yang tidak
didasarkan pada pertobatan pribadi. Namun, Nommensen terpaksa melakukannya mengingat
cepatnya gerakan islamisasi di Tapanuli Selatan, yang digerakkan oleh pasukan Tuanku Imam
Bonjol dan Tuanku Rao. Nommensen berharap mereka yang telah dikristenkan dapat
dibimbing dalam ajaran Tuhan di kemudian hari untuk memasuki pertobatan pribadi, mengikut
Yesus karena kemauan sendiri dan karena sudah mengerti ajaran Injil.
Dalam kenyataannya, pembaptisan massal kerabat seorang raja yang menjadi pengikut Yesus
banyak dilakukan karena solidaritas kekerabatan, bukan karena pertobatan murni dari
pemahaman akan Injil Yesus Kristus. Banyak dari mereka belum mengenal kekayaan dan
kemuliaan Injil Yesus Kristus sehingga tidak pernah mengalami pembaharuan hidup oleh kuasa
Roh Kudus dan mengerti keunikan Injil Kristus.

Pembaptisan massal tersebut memberikan kesibukan yang luar biasa bagi para Missionaris
dalam melayani Jemaat baru tersebut. Karena keterbatasan jumlah Missionaris, banyak
anggota Jemaat tersebut yang tidak sempat dibina dalam prinsip-prinsip sejati pemuridan
Yesus Kristus. Secara organisasi mereka anggota gereja, tetapi dalam pemikiran dan cara
hidup mereka masih sebagai orang Batak Haholomon (kegelapan) yang terikat dengan cara
pikir dan cara hidup hasipelebeguon.

Persoalan ini juga disebabkan oleh tidak adanya pedoman atau aturan gereja yang jelas dari
pimpinan di Jerman, yang mengirim para Missionaris. Mereka sendiri belum dapat
memutuskan sikap yang jelas terhadap upacara adat Batak karena upacara adat Batak
merupakan hal baru bagi mereka. Karenanya, terdapat perbedaan sikap yang belum pernah
dituntaskan di antara para Missionaris dalam menyikapi jenis-jenis upacara adat Batak yang
harus ditinggalkan. Namun pada prinsipnya, mereka sangat menekankan bahwa segala bentuk
hasipelebeguon harus ditinggalkan, karena bertentangan dengan Firman TUHAN.

Pdt. I.L.Nommensen yang pelayanan utamanya berada di Silindung memiliki sikap yang tegas
melarang keberadaan berbagai unsur upacara Hasipelebeguon, termasuk tortor dan gondang.
Tetapi Gustav Pilgram yang melayani di Balige dan sekitarnya justru mengizinkan tortor dan
gondang dilaksanakan dengan beberapa persyaratan seperti: unsur hasipelebeguon harus
dihilangkan, pemimpinnya harus missionaris, dilaksanakan pada siang hari, peralatannya milik
orang Kristen, dan tidak boleh diikuti oleh orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus.
Perbedaan sikap Pilgram itu dianggap oleh banyak orang Batak sebagai lampu hijau bagi
penerimaan adat Batak di dalam kekristenan. Mereka tidak memahami alasan Pilgram
mengizinkan dan memahami sikap dasar Pilgram bahwa segala bentuk hasipelebeguon tetap
harus disingkirkan dari kehidupan kekristenan. Alasannya untuk mengizinkan tortor dan
gondang dapat kita baca dari “referat 1885” (dikutip dari buku “Parsorion ni Gustav Pilgram”,
karangan DR. Andar Lumban Tobing):
Disipareonta tung sogo do gondang i, jala tortor i pe ndang pasonanghon pamerenganta. Alai
na mansai manarik gondang dohot tortor i di halak Batak, boi do dibuktihon godang ni loloan
na bolon na mandohotsa. Haru angka Kristen dohot angka parguru pe, tung maol do padaohon
nasida sian i. Aut so manarik situtu na ginoran ondeng tu halak Batak i, ndang apala penting
tema i, ia so i, molo halak Kristen naung marpangalaman sambing do siadopanta dison, na so
mamorluhon gondang dohot tortor, ndang penting tema ginoran nangkin, ai manang ise
marnampunahon Anak ni Amata, nunga di ibana hangoluan na saleleng-lelengna, nunga
martua nuaeng nang ro di saleleng-lelengna, jala ndang mamorluhon gondang dohot tortor be
ibana. Alai dison angka Kristen na baru tardidi dope dohot angka na so marpangalaman, na
ingkon sitogu-toguon dope songon dakdanak. Didok rohangku, ndang adong hakta mambuat
sude sian nasida naung adong hian di nasida, saleleng so adong pangantusion di nasida
mangonai na dumenggan i na naeng boanonta tu nasida.

Pilgram tidak setuju, namun terpaksa mengizinkan keberadaan gondang dan tortor. Mereka
dinilai belum memiliki pengertian akan Kristus, belum berpengalaman, masih seperti seorang
anak kecil. Dia berkeyakinan, bila orang Batak itu sudah memiliki pengenalan akan Kristus
(dewasa rohani), dia akan mengenal arti hidup yang kekal di dalam Kristus itu, dan pada
akhirnya mereka tidak memerlukan lagi tortor dan gondang itu dan meninggalkannya. Jadi
tidak perlu dipaksa. Namun, setelah ditunggu selama seratus lima belas tahun kemudian,
yakni awal tahun 2000 ini, masih banyak orang Kristen Batak yang masih hidup didalam
tingkat rohani seperti yang dikatakan oleh Pilgram itu. Alangkah pedihnya hati Pilgram kalau
melihat kenyataan seperti yang ada saat ini.

Pendudukan Jepang memaksa para Missionaris meninggalkan Indonesia tanpa berhasil
menuntaskan masalah upacara adat. Kepergian mereka meninggalkan kekosongan teologia
(theologia in loco) dan kebingungan rohani di tengah-tengah Jemaat Batak. Keterikatan
dengan pola hidup lamanya telah mendorong Jemaat untuk mendesak pimpinan gereja mengizinkan
kembali pelaksanaan berbagai upacara adat. Desakan ini didukung oleh argumentasi
teologis yang dikemukakan para pemimpin rohani yang belum mengalami pembaharuan total
dalam pola pemikirannya.

Argumentasi teologis tersebut merupakan suatu pemahaman Injil yang mengkompromikan
kebenaran ajaran Injil dengan ajaran agama Batak, teologia yang bersifat sinkretis
(pengajaran atau cara hidup yang berasal dari campuran dua atau lebih ajaran), yang dapat
diterima oleh pemikiran jemaat kebanyakan. Dalam teologi ini diakui bahwa Yesuslah satusatunya
Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tetapi dalam hidup sehari -hari perlu dipertahankan
upacara adat (agama) Batak, yang diketahui dengan jelas berasal dari Hasipelebeguon.
Teologi Sinkretis inilah yang diajarkan kepada Jemaat Kristen Batak sampai hari ini. Teologi
Sinkretis ini telah menjadi arus utama didalam pemahaman iman Jemaat Kristen Batak pada
masa sekarang.

Akibatnya, pada generasi berikutnya merebak kembali pelaksanaan berbagai upacara adat
yang sebelumnya telah dilarang oleh para Missionaris untuk dilakukan. Sebagai contoh,
upacara kematian (hamatean), upacara memindahkan tulang belulang (mangongkal holi),
pelaksanaan tortor dan gondang Batak di gereja dan berbagai upacara lainnya.
Bukan itu saja, upacara penyembahan nenek moyang yang merupakan inti agama Batak pada
masa kegelapan, kembali merebak dilakukan oleh masyarakat Batak Kristen sekarang.
Kebangkitan penyembahan ini mengambil bentuk baru yang ditandai dengan menjamurnya
pembangunan tugu-tugu marga Batak. Anda dapat melihat banyaknya tugu yang dibangun di
sepanjang jalan lintas antara kota Parapat dengan kota Tarutung. Tugu tersebut dibangun oleh
keturunan marga yang berasal dari satu garis leluhur (ompu parsadaan). Pembangunan ini
telah menghabiskan dana sangat besar, bahkan mendatangkan kemerosotan rohani yang
dalam. Kalau dahulu Nommensen mau dikorbankan oleh orang Batak kepada roh sembahan
leluhur marganya diatas bukit Siatas Barita, maka sekarang yang terjadi sebaliknya. Banyak
pendeta dan penatua pemimpin kebaktian pada acara pemujaan roh nenek moyang di tugutugu
marga.

Ironisnya lagi, pelaksanaan upacara dari masa kegelapan itu dibungkus dengan kebaktian
gerejawi, yang dilaksanakan di lokasi pendirian tugu marga dimana tulang belulang leluhur
tersebut dikuburkan kembali. Proses pembangunan tugu juga banyak melibatkan kuasa-kuasa
setan melalui datu (spirit medium), misalnya untuk menentukan lokasi penggalian tulang
belulang leluhur marga.

Tanpa disadari umat Tuhan di tanah Batak telah berubah menjadi umat yang mendua hati
(shizoprenis: terpecah), yang pada satu sisi mencoba untuk mengikuti ajaran Yesus Kristus,
pada sisi yang lain giat melakukan ajaran agama nenek moyangnya. Dalam hidup keseharian
terjadi pencampuran kedua ajaran agama (sinkretis), yaitu agama leluhur dan Injil Yesus
Kristus. Akibatnya kekristenan orang Batak menjadi kompromis, permisif dan kebenaran Injil
yang mutlak menjadi relatif. Satu kaki berpijak pada Injil (?), dan kaki lainnya berpijak pada
Adat (agama Hasipelebeguon). Satu sisi dalam terang, sisi lain dalam kegelapan.

Sinkretisme orang Kristen Batak dapat kita lihat di dalam pelaksanaan perkawinan. Perkawinan
orang Kristen Batak dilakukan dengan dua jenis upacara: upacara kegerejaan yang biasanya
dilanjutkan dengan upacara agama Batak. Pelaksanaan kedua upacara tersebut merupakan
suatu keharusan, sekalipun tidak ada hukum formal maupun Firman Tuhan yang
memerintahkannya. Pernikahan secara gerejani, tanpa diikuti dengan pelaksanaan upacara
adat Batak, sering menimbulkan konflik besar di dalam keluarga orang yang hendak menikah.

Di gedung gereja, orang Batak melakukan upacara kekristenan, sedangkan di luar gedung
gereja mereka melakukan upacara agama leluhur. Perbedaannya hanya terletak pada orang
yang memimpin upacara. Dulu dipimpin oleh Datu, sekarang digantikan oleh Pendeta. Peranan
datu digantikan oleh pendeta, tetapi rangkaian upacara adat (agama leluhur) selanjutnya
tetap sama. Berkat (pasu-pasu) dari Tuhan Yesus dianggap belum cukup, dan perlu
disempurnakan dengan berkat dari hula-hula dan lainnya. Kesempurnaan dan kemutlakan
karya Yesus Kristus telah disingkirkan demi mempertahankan upacara kegelapan warisan
leluhur itu.

Sinkretisme ini bukan hanya terjadi di kalangan gereja -gereja tradisional Batak, tetapi juga
telah merembes kepada orang-orang Kristen Injili yang mengaku Alkitabiah, menjunjung
tinggi keunikan Injil dan lebih giat memberitakannya. Dari mimbar kaum Injili yang ada di
Sumatera Utara sering disuarakan dukungan atas pelaksanaan upacara adat Batak. Merekapun
banyak yang terlibat di dalam pelaksanaan aktivitas tersebut.

Orang Batak telah melupakan prinsip rohani bahwa terang tidak dapat bersatu dengan gelap,
dan kebenaran tidak dapat dipersatukan dengan ketidakbenaran. Dalam bahasa Tuhan Yesus:
“Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikia n, ia akan
membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang
seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada
Tuhan dan kepada Mammon” (Matius 6:24).

Seiring dengan merebaknya kembali aktivitas upacara adat di tengah-tengah bangsa Batak,
kemerosotan rohani yang besar terjadi, baik pada kaum awam, maupun pada pemimpin
gereja. Kemerosotan itu nampak pada banyaknya perpecahan dalam gereja Batak, contohnya
kasus perpecahan gereja HKI, GKPI, dan HKBP. Perpecahan itu juga telah terjadi pada hampir
setiap gereja suku di Sumatera Utara. Perpecahan gereja Batak banyak bersumber pada akar
budaya Batak itu sendiri, dan konflik kepentingan di antara pemimpin umat; bukan karena
masalah teologia. Perpecahan yang besar berpuncak pada kasus gereja HKBP yang sangat
menghebohkan, yang telah banyak mengorbankan materi, darah bahkan nyawa manusia.
Semuanya sangat mempermalukan nama Tuhan Yesus.

Kemuliaan dan kehormatan yang seharusnya diberikan kepada Tuhan Yesus, telah diberikan
kepada iblis dan Pemimpin Jemaat. Wajar jikalau damai Tuhan Yesus tidak ada disana. Seruan
para malaikat di Betlehem mengajarkan bahwa damai Tuhan hanya akan diberikan kepada
orang yang berkenan kepada-Nya, yaitu orang yang memberikan kemuliaan kepada Tuhan
Yesus. “Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi
diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14). Gereja HKBP (tempat penulis
saat ini bergereja) sering diserukan sebagai “HKBP Na bolon I” (HKBP yang besar), padahal
gelar Na Bolon I tersebut hanya layak diberikan kepada Yesus Kristus.

Gereja yang seharusnya Duta Pembawa Damai di dunia, telah berubah menjadi sekumpulan
orang-orang yang saling berperang. Gereja telah menjadi arena peperangan baru bagi orang
Batak di zaman modern ini. Peperangan bukan hanya terjadi di kalangan kaum awam, namun
juga telah merebak sampai kepada pucuk pimpinan gereja itu sendiri. Sangat tepat dikatakan
bahwa orang Batak telah kembali kepada masa hidup nenek moyangnya, yang ditandai
dengan tingkat konflik yang tinggi, dimana sering terjadi peperangan (marporang) antar
kampung (huta). Konflik di gereja HKBP beberapa tahun belakangan ini merupakan contoh
terbesar dari peperangan antara sesama orang Batak masa kini.

Pemberitaan keselamatan manusia di dalam Tuhan Yesus, yang seharusnya merupakan
kesibukan utama bagi gereja Tuhan, telah berganti dengan banyaknya waktu yang terbuang
untuk mengikuti berbagai upacara adat. Kelalaian dalam melaksanakan Amanat Agung Tuhan
Yesus tidak pernah dinyatakan sebagai dosa yang serius oleh pimpinan gereja. Tetapi,
penolakan aktivitas upacara adat, atau ketidaktepatan pelaksanaan upacara adat segera akan
mengundang komentar yang tajam dan ramai. Perdebatan dan pertengkaran karena masalah
adat merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemerosotan rohani dapat kita lihat juga dalam kehidupan sehari-hari. Anda jangan heran,
jikalau pada masa sekarang, banyak orang Batak Kristen yang sangat takut untuk tidak
melakukan upacara adat. Sementara untuk tidak mentaati Firman Tuhan itu merupakan hal
yang dianggap sepele saja oleh mereka. Bahkan, sering dijumpai orang yang lebih senang
dikatakan sebagai orang yang tidak “ber-Tuhan” (ndang martuhan) daripada dikatakan
sebagai orang yang “tidak beradat” (ndang maradat). Tanpa disadari, adat Batak telah kembali
menjadi berhala atau ilah yang dijunjung tinggi di hati orang Kristen Batak.

Kemerosotan rohani juga dapat kita lihat pada banyaknya orang-orang Kristen Batak yang
terlibat berbagai dosa seperti perdukunan, spiritisme (berhubungan dengan arwah orang
mati), memberikan persembahan di kuburan, perzinahan, kebebasan seksual, rentenir,
perjudian, kemabukan, korupsi, suap-menyuap, pembunuhan, kekerasan (premanisme),
perkelahian dan berbagai dosa lainnya.

Dalam dunia pekerjaan, berbagai jabatan yang penting dan strategis di birokrasi dan
pemerintahan, yang pada awal kemerdekaan banyak dipegang oleh orang Kristen Batak, pada
saat ini telah beralih kepada orang-orang lain. Bukan itu saja, peluang untuk mendapatkan
pekerjaan khususnya dalam birokrasi dan pemerintahan menjadi sangat sulit diperoleh oleh
orang Batak Kristen, kecuali dengan menyogok (ber-KKN).

Kita semua tahu bahwa banyak orang Kristen Batak yang telah menjual imannya (iman
kepada Yesus Kristus), demi memperoleh suatu pekerjaan, pernikahan, pangkat dan jabatan.
Barter harta rohani yang tak ternilai harganya, dengan barang-barang murahan dari dunia ini
telah banyak dilakukan oleh kaum Esau dari Bona Pasogit, Tano Batak. Firman Tuhan dibawah
ini patut menjadi bahan pemikiran kita:
“Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau
akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan TUHAN, Bapamu,
yang kusampaikan pada hari ini engkau lakukan dengan setia” (Ulangan 28:13).
Karena itu, persoalan adat kini harus diselesaikan, karena kita mengetahui bahwa upacara
tersebut telah menimbulkan masalah rohani yang besar. Kita tidak mau membiarkan iblis
memperoleh kembali peluang untuk mencengkramkan kukunya pada generasi Batak saat ini.
Semuanya itu sangat mendukakan hati Tuhan dan mendatangkan murka atas bangsa Batak.
Karena itu sudah merupakan kewajiban dari generasi Kristen Batak pada masa kini untuk
mengevaluasi kembali kehidupan kerohaniannya di hadapan Tuhan Yesus. Evaluasi tersebut
mencakup cara pandang, sikap dan tindakan kita terhadap eksistensi upacara adat.

Evaluasi itu hanya mungkin dilakukan apabila kita mau datang kepada Tuhan Yesus dengan
sungguh-sungguh, dan meminta dengan tekun agar Dia menerangi hati kita, dan
menyingkapkan rahasia Firman-Nya. Karena hanya Tuhan Yesus, melalui Roh-Nya, yang
memiliki otoritas mutlak dalam menafsirkan seluruh kebenaran Firman Tuhan. Sehingga Dia
berkenan mengoreksi segala pemikiran, konsep, nilai, prinsip, cara dan tindakan kita selama
ini. Seruan untuk kembali kepada Tuhan Yesus sangat mendesak untuk diberitakan pada saat
ini. “Wahai bangsa Batak, kembalilah kepada Tuhan Yesus”, “Back to Jesus!”
Semuanya ini hanya mungkin, bila kita mau merendahkan hati untuk dikoreksi dan diajar oleh
Tuhan Yesus, sama seperti seorang anak kecil, yang memiliki kepolosan, keterbukaan dan
kejujuran untuk diajar. Bukan untuk sekedar menambah pengetahuan teologia belaka, tetapi
benar-benar untuk mentaati-Nya. Karena Roh Kudus hanya akan mengerjakan hal tersebut
bila kita dinilai-Nya telah memiliki ketaatan hati, sekalipun kebenaran itu sangat pahit untuk
memulainya (Kisah Para Rasul 5:32).
Karena itu, doa sang Pemazmur sangat relevan untuk dipanjatkan secara sungguh-sungguh
oleh orang-orang Kristen Batak:
“Selidikilah aku, ya Tuhan, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenalilah pikiranku;
lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” (Mazmur
139:23,24)
Renungan ini mencoba melihat kembali tentang sikap dan pandangan Tuhan terhadap masalah
upacara adat, khususnya yang hidup dalam masyarakat Batak, dengan mengambil contoh
kasus utamanya dari sub suku bangsa Batak Toba. Penulis hanya akan membatasi
pembahasan pada beberapa prinsip-prinsip utama yang mendasari pelaksanaan upacara adat,
dan tidak akan menguraikan detail dari pelaksanaan upacara tersebut. Karena melalui
renungan ini, tidak mungkin menguraikan dan mengkaji segala aspek dari berbagai macam
upacara adat yang ada di tengah-tengah masyarakat Batak.

Penulis sadar, bahwa apa yang dipaparkan dalam tulisan ini sangat bertentangan dengan
pemahaman teologi yang umumnya diyakini oleh masyarakat Batak sekarang. Apa yang
dituliskan disini merupakan suatu pemahaman alternatif, alkitabiah, dan Injili, yang Tuhan
Yesus bukakan secara bertahap kepada penulis. Penguraian ini akan menyentuh hal-hal yang
sangat sensitif di hati orang Batak, yang mungkin akan dapat membangkitkan rasa marah dan
benci bagi sebagian orang. Tetapi penulis berketetapan hati di hadapan Tuhan Yesus untuk
memberitakannya. Kalau Anda mau mencari kebenaran Tuhan, dipersilahkan untuk
membacanya terus.

Pertentangan pasti muncul, karena sudut pandang dalam melihat adat itu memang berbeda.
Pandangan Kristus tidak pernah sama dengan pandangan manusia yang dunia wi. Pandangan
Kristus jauh lebih tinggi dari pandangan duniawi. Penafsiran seseorang mengenai adat istiadat
muncul dari suatu titik pijakan, sikap hati dan tujuan yang hendak dicapainya. Persoalannya,
apakah kita memiliki dasar pijakan yang sama dengan Tuhan Yesus? Kuasa Roh Kudus hanya
akan menyertai dan mengurapi orang-orang yang memberitakan Firman sesuai dengan
maksud-Nya.

Penulis sangat terkejut ketika membaca sebuah buku, yang berjudul “Christ and Culture”
(Kristus dan Kebudayaan), yang ditulis oleh seorang teolog terkenal, yang bernama DR.
Richard Niehbur. Dalam buku tersebut dijelaskan alasan menyebabkan orang-orang Yahudi
dan para pemimpin bangsa tersebut menyalibkan Tuhan Yesus. Niehbur berpendapat bahwa
orang-orang Yahudi membunuh Tuhan Yesus karena segala pengajaran dan tindakanTuhan
Yesus merusak adat istiadat dan agama Yahudi, yang sangat mereka banggakan. Akhirnya,
mereka harus memilih, antara membinasakan Tuhan Yesus atau membiarkan agama dan adat
istiadat Yahudi hancur. Demi mempertahankan keutuhan adat dan agama tersebut, mereka
memilih untuk membinasakan Tuhan Yesus, orang yang dianggap sebagai sumber kerusakan
itu.

Peristiwa tersebut menjadi pelajaran, sekaligus tantangan bagi kita sebagai pengikut Kristus
didalam menghadapi kontroversi masalah adat. Yesus Kristus hadir di tengah-tengah
kemerosotan rohani bangsa Israel yang menjalar di seluruh bidang kehidupan. Dia segera
mengenali ketidakberesan bangsa tersebut dalam cara pandang dan sikap terhadap Firman-
Nya. Lalu, dari mulut-Nya yang kudus keluar penilaian dan koreksi-Nya terhadap agama dan
adat istiadat bangsa tersebut.

Demikian juga bagi bangsa Batak, di tengah-tengah kemerosotan rohani yang terjadi masa
kini, sangat diperlukan kembali adanya suatu reinterprestasi dan pembaharuan sika p akan
eksistensi upacara adat Batak yang berasal dari masa kegelapan itu. Dengan kata lain, gereja
Tuhan di tanah Batak sangat memerlukan “reformasi iman” dalam kehidupan rohaninya.
Karena itu, kita ditantang Tuhan untuk mengambil sikap, antara menyuarakan Injil atau
mempertahankan berbagai upacara adat tersebut.

Karena itu, penulis akan memaparkan beberapa prinsip utama yang mendasari upacara adat
yang sangat bertentangan dengan Injil. Melalui beberapa prinsip itu kita akan melihat strategi
iblis untuk mengikat dan mengendalikan hidup masyarakat Batak. Strategi itu juga merupakan
benteng rohani yang dibangun oleh iblis agar masyarakat Batak dapat diperhambanya dari
generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian umat Tuhan akan kehilangan kekuatan
rohaninya dan hidup dalam kekalahan rohani terhadap kuasa iblis dan roh-roh jahat. Selain
itu, semangat dan kuasa untuk memberitakan Injil dapat dipadamkan dari tengah-tengah
Jemaat Batak, seperti yang terjadi saat ini.

Dalam perbincangan sehari-hari, penulis sering mendengar keluhan dari orang-orang Batak
tentang masalah adat. Banyak yang mengungkapkan keinginannya untuk terlepas dari
upacara adat karena melihat tidak ada keuntungannya, bahkan menyalahi Firman Tuhan.
Sayangnya, sangat sedikit dari mereka yang memiliki keberanian untuk melakukannya.
Umumnya, mereka mengambil jalan aman dengan tetap melibatkan diri, daripada terlibat
konflik dengan sesama kerabat atau jemaat gerejanya. Orang Batak telah kehilangan “darah”
dalam menegakkan dan menyuarakan ajaran Injil.

Pada awal milenium ketiga ini, dimana saat kedatangan Tuhan Yesus semakin dekat,
dibutuhkan adanya suatu kebangunan rohani di tengah-tengah bangsa Batak. Kebangunan
rohani akan dimulai, jikalau ada orang-orang Batak yang memiliki cara pandang dan sikap
yang lebih tajam dan Injili didalam menilai eksistensi upacara adat, serta memiliki keberanian
untuk menyuarakannya pada zaman ini. Karena hanya orang-orang yang seperti ini yang akan
diperlayakkan TUHAN untuk memasuki arena peperangan rohani melawan kuasa-kuasa
kegelapan, yang telah membelenggu, membutakan serta melumpuhkan kehidupan umat
Tuhan di tanah Batak. Kemenangan pasti menjadi milik kita.

Kepada orang yang benar-benar mencintai Tuhan Yesus dengan segenap hatinya, perlu
dibukakan berbagai bentuk benteng rohani yang telah dibangun oleh iblis dalam upaya
menguasai, membelenggu, dan memperbudak bangsa Batak dari satu generasi ke generasi
lainnya. Pengertian ini akan menolong mereka untuk dapat terlepas dari segala jerat iblis di
dalam adat Batak, dan beribadah kepada Tuhan Yesus dalam kebenaran dan kekudusan
seumur hidupnya.

Penghancuran benteng-benteng iblis yang ada dalam diri orang Batak akan menghasilkan
saksi-saksi Kristus yang diurapi dengan keberanian dan kuasa Roh Kudus. Sehingga pada awal
abad ke-21 ini akan bangkit orang-orang Kristen Batak yang dipakai oleh Tuhan dalam
menyelesaikan Amanat Agung-Nya, dengan melepas mereka dari genggaman kuasa iblis.
Dengan demikian kita dapat mempersiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya,
dalam rangka menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, yang waktunya sudah
semakin sangat dekat.

Renungan ini hanya ditujukan kepada orang-orang yang mau mengasihi Tuhan Yesus dengan
segenap hatinya, yang mau dipakai-Nya dalam peperangan rohani. Yaitu, kepada mereka yang
memiliki keprihatinan rohani (sense of spiritual crisis ) terhadap nasib bangsa Batak; kepada
orang-orang yang mau mencari Kerajaan Sorga dan mau mengikut Tuhan Yesus dengan
sungguh-sungguh. Karena hanya merekalah yang mau memikul salib Kristus sebagai
konsekuensi atau harga dari ketaatan pada Injil untuk meninggalkan upacara adat Batak.

Partuturan Ni Halak Batak Toba (Sapaan Bagi Orang Batak Toba)

Ada begitu banyak sapaan kekerabatan yang biasa diucapkan oleh masyarakat Batak yang sering kita dengar, tetapi banyak juga orang yang mengklaim dirinya suku batak tetapi tidak tahu "martutur" (bertutur sapa). Kesalahan dalam sapaan ini bagi masyarakat Batak yang memahami adat dapat mengakibatkan ketersinggungan dan komunikasi yang tidak baik kepada lawan bicara sehingga sering muncul ucapan "Naso maradat do ho bah !".

Oleh sebab itu masyarakat Batak wajib memahaminya, berikut ini ada beberapa tutur sapa yang sering diucapkan semoga berguna :
  1. Ale-ale   = teman akrab, bisa saja berbeda marga
  2. Amang Naposo = anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita
  3. Amang/ damang/ damang parsinuan =ayah, bapak, sapaan umum menghormati kaum laki-laki
  4. Amangbao = suami dari adik/ kakak (pr) (eda) suami kita
  5. Amangboru = suami kakak atau adik perempuan dari ayah
  6. Amangtua mangulaki = kakek ayah
  7. Amangtua = abang dari ayah, suami dari kakak ibu, suami dari pariban ayah yang lebih tua
  8. Amanguda = adik laki-laki dari ayah, suami dari adik ibu, suami dari pariban ayah yang lebih muda
  9. Amanta/ amanta raja = kaum laki-laki yang biasa dipanggil pada sebuah acara adat
  10. Ampara = sapaan umum buat yang se-marga, marhaha-maranggi (abang-adik) untuk yang laki-laki
  11. Anakboru = perempuan yang masih gadis atau belum menikah
  12. Anggi doli = suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
  13. Anggi = adik kita (lk), adik (pr) boru tulang
  14. Anggiboru = isteri adik kita yang laki-laki, istri dari adik yang satu marga
  15. Angkang boru = isteri abang satu marga
  16. Angkang doli = abang, laki-laki yang lebih tua dari kita yang sudah menikah dan satu marga sesuai tarombo / silsilah
  17. Angkangboru mangulaki = namboru ayah dari seorang perempuan
  18. Bere = semua anak (lk / pr) dari adik/kakak perempuan
  19. Bona niari = tulang dari kakek
  20. Bonaniari binsar = tulang dari ayah kakek
  21. Bonatulang = tulang dari ayah
  22. Boru diampuan = keturunan dari namboru ayah
  23. Boru = anak kandung perempuan, semua pihak keluarga dari saudara perempuan
  24. Borutubu = semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung
  25. Dahahang (baoa/ boru) = abang kita atau isterinya
  26. Dainang = ibu, sebutan kasih sayang anak kepada ibu, digunakan juga oleh ayah kepada anak perempuannya
  27. Dakdanak = anak laki-laki atau perempuan yang masih kecil
  28. Damang = ayah, bapak, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri
  29. Dolidoli = laki-laki yang masih lajang atau belum menikah
  30. Dongan sahuta = kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu kampung
  31. Dongansapadan = dianggap semarga karena diikat oleh janji atau ikrar
  32. Dongantubu = abang/ adik satu marga
  33. Eda = kakak atau adik ipar antar perempuan, sapaan awal antara sesama wanita
  34. Haha = abang laki-laki
  35. Hahadoli = sebutan isteri terhadap abang (kandung) suaminya, abang dari urutan marga
  36. Hela = suami anak perempuan kita, menantu laki-laki, bisa juga sebutan untuk suami dari anak perempuan kita yang se-marga dan setarap menurut silsilah marga
  37. Hula-hula = keluarga abang/adik (lk) dari isteri
  38. Ibebere = keluarga anak (lk/pr) dari pihak perempuan
  39. Inang simatua = ibu mertua
  40. Inangbao = isteri dari adik/ abang (lk) istri kita
  41. Inangnaposo = isteri dari amangnaposo
  42. Inangtua mangulaki = nenek ayah
  43. Inangtua = isteri dari abang ayah, ada juga inangtua marpariban
  44. Inanguda = isteri dari adik ayah, ada juga inanguda marpariban
  45. Inanta/ inanta soripada = sebutan penghormatan bagi wanita sudah menikah, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara adat
  46. Ito, iboto = kakak atau adik perempuan satu marga, sapaan awal dari laki-laki terhadap perempuan atau sebaliknya, panggilan kita kepada anak perempuan dari namboru
  47. Lae = tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk) maupun sebaliknya, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk), anak laki-laki dari namboru kita (lk)
  48. Maen = anak-gadis dari hula-hula kita
  49. Namboru = kakak atau adik ayah kita yang sudah menikah maupun belum
  50. Nantulang = isteri dari tulang kita, mertua dari adik kita yang perempuan
  51. Nini = sebutan untuk anak dari cucu laki-laki
  52. Nono = sebutan untuk anak dari cucu perempuan
  53. Ompung boru = nenek, orang tua perempuan dari ayah kita
  54. Ompung doli = kakek, orang tua laki-laki dari ayah kita
  55. Ompungbao = kakek/nenek dari ibu kita, orangtua dari ibu kandung kita
  56. Ondok-ondok = cucu dari cucu laki-laki
  57. Pahompu = sebutan untuk semua cucu, anak - anak dari semua anak kita
  58. Pamarai = abang atau adik dari suhut utama, orang kedua
  59. Paramaan = anak (lk) dari hula-hula
  60. Pariban = semua anak perempuan dari pihak tulang kita, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik, anak perempuan yang sudah menikah dari pariban mertua perempuan
  61. Parumaen = mantu perempuan, isteri dari anak
  62. Rorobot, tulangrorobot = tulang isteri (bukan narobot)
  63. Simatua boru = mertua perempuan, ibu dari istri
  64. Simatua doli = mertua laki-laki, ayah/ bapak dari istri
  65. Simolohon / simandokhon = iboto, kakak atau adik laki-laki
  66. Suhut = pemilik hajatan kelompok orang yang membuat acara adat
  67. Tulang = abang atau adik dari ibu, mertua dari adik kita yang laki-laki
  68. Tulang naposo = paraman yang sudah menikah
  69. Tulang Ni Hela = tulang dari pengantin laki-laki
  70. Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami, = isteri
  71. Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
  72. Tunggane = semua abang dan adik (lk) dari isteri kita, semua anak laki-laki dari tulang

Disadur Dari : Partuturan Ni Halak Batak Toba

Perkawinan Yang Dilarang Dalam Adat Batak Toba

Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, upacara perkawinan adat Batak Toba juga terkenal sangat “merepotkan” jika kita bandingkan dengan upacara perkawinan di daerah lainnya di Indonesia.

Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya.

Berikut ini ada 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba : 

1. Namarpandan

Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:
Hutabarat dan Silaban Sitio
Manullang dan Panjaitan
Sinambela dan Panjaitan
Sibuea dan Panjaitan
Sitorus dan Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
Sitorus Pane dan Nababan
Naibaho dan Lumbantoruan
Silalahi dan Tampubolon
Sihotang dan Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
Manalu dan Banjarnahor
Simanungkalit dan Banjarnahor
Simamora Debataraja dan Manurung
Simamora Debataraja dan Lumbangaol
Nainggolan dan Siregar
Tampubolon dan Sitompul
Pangaribuan dan Hutapea
Purba dan Lumbanbatu
Pasaribu dan Damanik
Sinaga Bonor Suhutnihuta dan Situmorang Suhutnihuta
Sinaga Bonor Suhutnihuta dan Pandeangan Suhutnihuta 

2. Namarito

Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpamanya seperti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak “Tungkot Tunggal Panaluan“? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak “Linduak” kembar laki-laki dan perempuan. Anak “Linduak” adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.

3. Dua Punggu Saparihotan

Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.

4. Pariban Na So Boi Olion

Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya? Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan “Jadian” atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.

5. Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Larangan berikutnya adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.

Disadur Dari : Perkawinan Yang Dilarang Dalam Adat Batak Toba

Sejarah dan Keajaiban Sigale-gale

Pertunjukan tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang membuatnya. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Bagaimana pertunjukan mistis ini bisa sampai melekat dalam masyarakat Batak?

Untunglah sampai hari ini Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang. Jika mau menonton langsung pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir.

Kabarnya ada empat tempat yang dapat mempertontonkannya di sana. Dua di antaranya yang mudah dijangkau adalah tempat wisata Tomok dan Museum Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan bayaran tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia.

Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya.

Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback).

Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan, sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia.

Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Padahal semua gerakan itu hanya di atas peti mati, tempat disimpannya boneka Sigale-gale seusai dipajang atau dimainkan. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu dua tiga orang dalangnya ada di belakang dengan menarik jalur-jalur tali secara anatomis.

Dalang Legendaris

Dulu, Sigale-gale sempat dimainkan hanya oleh satu orang dalang. Dalang terakhir yang terkenal adalah Raja Gayus Rumahorbo dari kampung Garoga, Tomok. Beliau pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang Siantar (Simalungun) pada tahun 1930-an. Malahan, kabarnya Sigale-gale yang dimainkannya waktu itu adalah hasil buatannya sendiri.

Raja Gayus dikenal mampu membuat Sigale-gale mengeluarkan airmata dan punya kemampuan mengusapkan ulos (kain tenunan Batak) yang disandangkan sebelumnya di bahu sang boneka kayu. Airmata yang keluar tentu saja air yang mengalir dari bagian kepala Sigale-gale yang dilubangi. Namun bagaimana teknis mengeluarkannya masih sulit dibayangkan, karena biasanya diisi dengan kain lap basah atau wadah kecil yang muat di bagian yang berlubang itu.

Pewaris Raja Gayus Rumahorbo mengatakan, Sigale-gale yang dimainkan pada festival itu kini berada di Belanda. Satu boneka lagi, masih menurut pewarisnya, terdapat di Jakarta. Memang Museum Nasional di bagian khusus kebudayaan Batak pernah diinformasikan menyimpan patung Sigale-gale. Rayani Sriwidodo Lubis melahirkan sebuah buku ceritanya berjudul Sigale-gale (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982) diperkirakan mendapat inspirasi setelah melihat patung yang ada di museum itu.

Mistik di Balik Pembuatan Sigale-gale

Kisah pembuatan patung Sigale-gale masih lestari di kampung Garoga. Kampung ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Tomok, dan naik ke arah kiri yang dibentengi pegunungan Samosir. Gunung sekitar itu dikenal dengan nama Naboratan yang dapat berarti “sangat berat”. Ada satu air terjun, yang dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sampuran Simangande.

Air terjun yang konon menyimpan batu-batuan aneh dan posisi gunung seperti tembok yang sangat tinggi itu sempat menambahi kesan lebih jauh tentang kampung yang dikenal masih menyimpan patung Sigale-gale itu. Ternyata suasana alam yang melatar belakangi kampung Garoga sama sekali tidak ada kaitannya dengan munculnya patung Sigale-gale. Setidaknya dalam kaitan bahan-bahan seperti kayu dan upacara tertentu untuk patung Sigale-gale.

Kampung Garoga juga tak bisa dipastikan sebagai setting cerita Sigale-gale. Kampung ini hanyalah salah satu kampung selain kampung Siallagan atau Ambarita. Malahan informasi tentang sebuah patung Sigale-gale pernah ada dari sekitar Silimbat Porsea.

Hari itu, di teras sebuah rumah yang berarsitek modern, kami diperlihatkan pada dua unit Sigale-gale yang sudah berumur 30 dan 70 tahun. Salah seorang keturunan Raja Gayus menyambut kedatangan kami dengan minuman tradisional tuak dan natinombur (ikan panggang dengan racikan sambal khas Batak).

Beberapa orang pemusik sudah siap-siap di posisi belakang terletaknya kedua Sigale-gale itu dengan instrumen selengkapnya. Sekitar setengah jam mereka memainkan sejumlah repertoar musik yang konteksnya tidak jauh dari kategori musik ritual Batak.

Biasanya ada tujuh macam cara musikal yang dilakukan dalam ritual Batak. Namun selesai pertunjukan, kami lebih terfokus membicarakan seputar Sigale-gale sendiri.

Terkait dengan pembuatannya, patung Sigale-gale diliputi oleh cerita yang mistis atau seram. Bila seseorang sudah bersedia membuat patung Sigale-gale, berarti ia sudah pasti menjadi tumbal. Setelah menyelesaikan sebuah patung, si pembuat akan segera meninggal. Mungkin kepercayaan ini pulalah yang membuat patung Sigale-gale menjadi ekslusif dan tidak pernah dibuat banyak-banyak.

Berdasarkan kejadian-kejadian itu, proses pembuatan Sigale-gale kemudian dilakukan oleh lebih dari satu orang. Ada yang khusus mengerjakan pembuatan tangan, tungkai kaki, bagian badan, dan kepala. Mungkin secara bersama juga tali-tali dan kerandanya yang berukiran Batak diselesaikan. Jumlah tali-tali pada setiap patung yang dibuat tidak selalu serupa.

Pada dua unit Sigale-gale tadi, salah satunya mempunyai tali penarik 17 ruas. Dulu tali-tali tersebut katanya sama sekali tidak ada. Gerakan patung berlangsung hanya dengan kekuatan gaib yang dimiliki dalangnya. Patung yang dihidupkan demi kekuatan gaib dalam tradisi Batak disebut dengan gana-ganaan dan dia dapat menyerupai totem. Seorang pembuat patung Sigale-gale dulunya dikenal dengan sebutan Datu Panggana, karena didorong oleh suatu kekuatan gaib juga.

Bahan yang digunakan untuk patung Sigale-gale biasanya dari sejenis pohon bernama ingul dan pohon nangka. Pohon nangka khusus digunakan untuk bagian tangan dan kepala. Sedangkan pohon ingul untuk bagian badan dan kaki. Kayu ini termasuk jenis kayu yang bermutu dan sering digunakan membuat perahu. Tidak ada makna simbolis dengan pilihan atas kedua kayu itu. Pengerjaan satu patung Sigale-gale dapat memakan waktu satu tahun.

Asal Mula Sigale-gale

Selesai pengerjaan patung Sigale-gale, para pembuat atau pemesannya tidak boleh menempatkan serta menyimpannya di dalam rumah. Ada tempat khusus untuk menyimpan patung Sigale-gale zaman dahulu. Namanya disebut sopo balian, sebuah rumah-rumahan di tengah sawah.

Tersebutlah seorang raja yang kaya bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Manggale. Anaknya tersebut diharapkan segera mendapat jodoh. Namun setiap perempuan yang disukainya selalu tak mau mendampinginya.

Suatu ketika, sang raja turut mengirim anaknya berperang dalam rangka meluaskan wilayah kerajaan. Anak itu ternyata mangkat pula di medan perang. Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung dibuatkan mirip sang anak, dan sehidup mungkin. Patung tersebut kemudian dinamainya Sigale-gale.

Namun sang raja memesankan agar patung tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian. Nanti, pada saat upacara kematiannya, patung itu dapat dijemput untuk menari di samping jenazahnya. Jadi pertunjukan Sigale-gale dulunya diadakan hanya kepada seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak punya keturunan.

Setiap orang yang sengaja memesankan patung Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan janji). Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya.

Tapi ada versi lain tentang cerita Sigale-gale. Konon, seorang dukun bernama Datu Partaoar, ingin sekali mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Suatu ketika dia menemukan sebuah patung cantik di tengah hutan, persis seperti seorang gadis yang tubuhnya terlilit kain dan beranting-anting. Dia kemudian membawa gadis itu setelah mengubahnya dari patung menjadi manusia.

Istrinya yang juga berharap-harap selama ini untuk mempunyai keturunan memberi nama gadis itu dengan nama Nai Manggale. Dia menjadi gadis yang disenangi penduduk karena kelembutannya. Suatu ketika dia harus mendapatkan pendamping hidup. Namun seperti ibunya, ia tidak dapat melahirkan keturunan secara biologis. Dia pun berkata kepada suaminya yang bernama Datu Partiktik agar memesan pematung untuk membuatkan sebuah patung yang bisa menari di samping jenazahnya suatu ketika. Patung tersebut dinamai Sigale-gale.

Berdasarkan versi itulah kiranya tarian Sigale-gale pernah ditemukan dengan pasangan laki-laki dan perempuan. Sigale-gale secara etimologis dapat berarti “yang lemah gemulai”. Demikianlah sebenarnya kesan melihat tarian boneka Sigale-gale. Entah mungkin juga mereka kembar. Yang laki-laki namanya si Manggale dan perempuan bernama Nai Manggale.

Disadur dari : Sejarah dan Keajaiban Sigale-gale

Asal Mula – Tungkot Tunggal Panaluan

Tunggal Panaluan adalah sebuah benda berbentuk tongkat (tungkot) dengan ukuran panjang kira-kira 170 cm, dan biasanya dimiliki oleh Datu bolon (dukun besar).Tongkat Tunggal Panaluan ini salah satu seni  dari suku Batak yang sudah terkenal diseluruh dunia, yang diukir menurut kejadian sebenarnya dari kayu tertentu yang juga memiliki kesaktian. Masyarakat suku Batak meyakini bahwa benda ini memiliki kekuatan gaib, seperti untuk meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll. 

Ada beberapa versi mengenai kisah terjadinya tongkat Tongkat Tunggal Panaluan ini, tetapi pada intinya kisah-kisah tersebut hampir bersamaan atau mirip. Berikut ini adalah kisah atau legenda asal mula Tungkot Tunggal Panaluan tersebut.

Dahulu kala di daerah Pangururan, Pulau Samosir tepatnya di Desa Sidogordogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane‘. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan. Mereka sudah cukup lama menikah tetapi belum juga di karuniai seorang anakpun. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib (aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras.

Melihat keadaan kemarau dan panas yg masih terjadi ini, membuat Raja Bius (head of Malim community) menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan berkata kepadanya: ‘Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan?’. Hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya, lalu Guru Hatimbulan menjawab :”Semua ini mungkin saja terjadi”. lalu Raja Bius mengatakan :” Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat terlalu lama", karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak menyebabkan perkelahian.

Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan, seketika itu juga maka hujan pun turun dengan lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua, lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan jahat. Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.

Setelah usai pesta tersebut, ada beberapa tamu yang telah menasehatkan Guru Hatimbulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orangtua dulu.

Guru hatimbulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua dan kepala kampung tersebu. Setelah sekian lama terbuktilah apa yg dinasehat para penatua itu benar adanya. Dilain waktu, Guru hatimbulan pergi ke Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk disana, dan membawa anak-anaknya kesana.

Gubuk itu dijaga dengan seekor anjing dan setiap hari guru hatimbulan membawakan makanan untuk anaknya tersebut. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon(hau tada-tada), pohon yang batangnya penuh dengan duri tetapi memiliki buah manis. Melihat buah pohon itu, maka timbullah hasratnya untuk memakannya, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga dia tertelan dan menjadi satu dengan pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat (tersisa) . Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore kok belum pulang juga adiknya, lalu dia pergi ke dalam hutan untuk mencarinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yg berdekatan dengan dia, dan adiknya menceritakan apa yg terjadi.

Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dengan pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pada pohon tersebut, lalu anjing itupun mengalami hal yang sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yang terlihat.

Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tersebut dan dimana dia hanya melihat kepala kedua orang anak itu dan anjing penjaganya.

Melihat hal itu dia menjadi sedih. Dari info dan petunjuk yang dia cari maka bertemulah dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tersebut untuk menolong anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si datu memulai ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yg menawan anak si Guru hatimbulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yang sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu.

Guru Hatimbulan dan para penonton kembali ke rumah mereka dengan hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa , mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dengan mencari datu lain. Kemudian Guru hatimbulan mendengar kabar ada datu yang hebat, namanya Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yang sama.

Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar(si Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun di telan pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik(gondang) , pele-pelean, dan semua yg diminta para datu itu utk roh yg ada di pohon tsb.

Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan Guru hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu. Guru hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah(spirit of land), roh air(water), roh kayu(wood) dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tsb.

Guru hatimbulan mempersiapkan semua yg diperlukan oleh si datu utk upacara tsb sesuai dgn arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya,lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yangg ada di pohon jadi menghilang, juga anjing dan ular yg tertelan pohon itu. Semua orang yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru hatimbulan: 'Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini'. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular.

Setelah selesai mengukit tongkat tersebut menjadi 9 rupa, maka semua orang kembali ke kampung guru hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dengan bunyi gong, dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tongkat tersebut. Setelah guru hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa Ginjang manortor (menari), melalui tortor ini dia kesurupan (siar-siaron) dirasuki roh-roh dari orang-orang  yg pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:

1. Si Aji Donda Hatahutan.
2. Siboru Tapi Nauasan.
3. Datu Pulo Punjung nauli, atau si Melbus-elbus.
4. Guru Manggantar porang.
5. Si Sanggar Maolaol.
6. Si Upar mangalele.
7. Barita Songkar Pangururan.

Dan mereka berkata, wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari rupa kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam.

Kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, jangan kutuk dia tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini dia tidak dapat mengukir image kalian. Tetapi si pisau berbalik membalas, jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi. Kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau. Si tukang besi menjawab, jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi. Angin menjawab, jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan. ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, ‘ aku mengutukmu, ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku’. Ketika Guru hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik’ jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan.

Lalu Roh itu berkata ‘baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku ‘ untuk: Menahan hujan, Memanggil hujan pada waktu musim kering, Senjata di waktu perang, Mengobati penyakit, Menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing. 

terjemahan bebas dari: Forgotten Kingdom in Sumatra , by. FM.Schitger, 1989